Hari Ulang Tahunku
Perpaduan langit biru dengan warna jingga matahari memanjakan dua pasang mata yang berada disebuah taman kota. Sally dan Ilham duduk di bangku taman berbentuk lingkaran yang berada dibawah pohon yang rindang. Pohon rindang itu melindungi mereka dari sinar matahari dan membuat udara disekitar mereka menjadi sejuk.
Ditengah mereka terdapat meja bundar yang terbuat dari kayu. Diatas meja tersebut, tertata makanan ringan, jus jeruk, jus alpukat dan sebuah kue ulang tahun. Angin sepoi-sepoi meniup rambut bergelombang Sally.
"Sally,
selamat ulang tahun" ucap Ilham sambil tersenyum melihat Sally yang tidak
menampakkan wajah gembira di hari ulang tahunnya. "Terima kasih,
Ilham". Balas Sally.
Ilham diam sambil
menatap Sally sebagai tanda ia nenunggu cerita Sally mengenai apa yang terjadi
dengan dirinya.
"Ham, aku
tidak tahu harus merasakan apa dihari ulang tahunku ini, dua tahun yang lalu
atau bahkan setahun yang lalu aku senang sekali banyak yang memberikan ucapan selamat
dan mendoakan hal- hal baik untukku". Ucap Sally sambil melihat Ilham.
Sally mulai
menceritakan apa yang dia rasakan kepada Ilham. "Setelah aku pikir-pikir,
rasanya aku jahat sekali, aku bahagia diatas penderitaan orang lain. Dihari
dimana aku dilahirkan terdapat seseorang yang berada diambang kematiannya,
Ibuku". Lanjut Sally sambil merubah posisinya menjadi bersandar ke kursi
sambil menyesap jus alpukat kesukaannya. Ilham merubah posisinya, ia memajukan
tubuhnya ke meja dan bertopang dagu sebagai tanda dia semakin menanti lanjutan
cerita Sally.
"Jusnya
enak, terima kasih". Puji Sally. "Ibuku yang membuatnya, ditambah
sedikit cairan kasih sayang saat dia tahu bahwa hari ini kamu ulang
tahun". Balas Ilham. "Lanjutkan ceritamu". Pinta Ilham.
"Pantas
ada yang berbeda dengan jus kali ini". Balas Sally sambil tertawa. "Saat
ini aku berpikir bahwa selama ini aku selalu merayakan kebahagiaanku atas
kesempatan untuk tetap hidup di dunia ini namun jauh dibawah alam sadarku pun merayakan
penderitaan seseorang. Saat merayakan ulang tahunku, Ibu pasti mengingat
masa-masa Ia berjuang melahirkanku dulu". Lanjut Sally.
"I feel
complicated, Ham". Adu Sally. Ilham menatap mata sahabatnya yang mulai
berkaca-kaca.
"Coba lihat
dari sudut pandang orang tuamu. Kamu adalah kebahagiaan kedua orang tuamu. Kamu
adalah berkah yang tuhan titipkan kepada mereka. Kamu yang masih hidup hingga
saat ini, dengan sejuta kesempatan untuk melakukan hal-hal baik dihari yang
akan datang, merupakan keberhasilan atas kerjasama tuhan, kamu, dan orang
tuamu" jawab Ilham.
"Untuk
mendapatkanmu mereka melakukan banyak usaha. Banyak yang harus dipersiapkan
fisik, mental, dan finansial. Kesakitan saat melahirkanmu juga termasuk dalam persiapan
mereka. Itu konsekuensi untuk mendapatkan permata. Itu hukum alam. Mereka sudah
tau bahwa rasa sakit itu harus mereka hadapi. Tuhan membayar rasa sakit ibumu
dengan rasa haru saat kamu lahir dengan selamat. Tuhan juga menjamin kebaikan
lain bagi mereka yang melahirkan dan
mendidik anak-anaknya". Balas Ilham menenangkan Sally. Sally tersenyum
mendengar balasan ilham.
"Jadi gak
usah bingung lagi, berbahagialah dihari ulang tahunmu. Doakan kedua orang tuamu.
Jadikan hari ulang tahunmu sebagai perayaan keberhasilan antara kamu, orang
tuamu, dan tuhan dalam merawat tubuhmu ini, feel better?".
Sally tersenyum
mendengar jawaban Ilham. "I do. Makasih ya ham". Ucap Sally
yang dibalas oleh Ilham dengan anggukan.
Sally merasa
ringan. Benang kusut yang ia rasakan selama ini terpecahkan dengan bantuan
ilham. Ia merasa bahagia dan bersyukur kepada tuhan atas dihadirkannya orang
tua dan tentunya Ilham dalam hidupnya. Ia menyantap hidangan yang sudah
dipersiapkan ilham dengan lahap.
"Enakk, Ham. Sampaikan terima kasihku
kepada ibumu" . Ujar Sally sambil tersenyum lebar. Ilham membalas dengan
tawa dan anggukkan.
Komentar
Posting Komentar